Menjaga Kesehatan Otak Sejak Dini, Kenali Cara Mengurangi Risiko Demensia
12 Sep 2026
Ditulis oleh Admin
2x dibaca
Bogor 12 September 2026 — Kesehatan otak merupakan bagian penting dari kualitas hidup yang perlu dijaga sepanjang usia. Kemampuan mengingat, berpikir, berkonsentrasi, berkomunikasi hingga mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh kondisi otak. Seiring bertambahnya usia, seseorang memang dapat mengalami perubahan kemampuan kognitif, namun demensia bukanlah bagian normal dari proses penuaan.
Demensia merupakan istilah yang mencakup berbagai kondisi yang menyebabkan penurunan kemampuan kognitif hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Penyakit Alzheimer merupakan bentuk demensia yang paling umum, sementara faktor lain seperti gangguan pembuluh darah otak juga dapat berperan.
Kabar baiknya, sejumlah faktor risiko demensia dapat dimodifikasi melalui perubahan gaya hidup dan pengelolaan kondisi kesehatan secara tepat. Dalam panduan terbaru yang diterbitkan pada 2026, WHO menyebut hingga 45% risiko demensia berhubungan dengan faktor-faktor yang dapat dicegah atau ditunda, seperti kurang aktivitas fisik, merokok, konsumsi alkohol, isolasi sosial, polusi udara, tekanan darah tinggi dan diabetes. Karena itu, menjaga kesehatan otak tidak harus menunggu usia lanjut. Kebiasaan sehat yang dilakukan sejak usia dewasa dapat menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi otak dalam jangka panjang.
Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Otak?
Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat, antara lain:
1. Aktif bergerak secara rutin
Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah yang juga berperan penting dalam menjaga kesehatan otak. CDC merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas fisik secara rutin, dengan target sekitar 150 menit aktivitas intensitas sedang per minggu.
2. Kendalikan tekanan darah, gula darah dan kolesterol
Hipertensi, diabetes dan kadar kolesterol yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah serta berdampak pada kesehatan otak. Pemeriksaan kesehatan secara berkala penting dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
3. Terapkan pola makan sehat
Konsumsi makanan bergizi seimbang dengan memperbanyak sumber nutrisi yang baik bagi tubuh, serta membatasi makanan tinggi gula, garam dan lemak secara berlebihan.
4. Berhenti merokok dan hindari konsumsi alkohol berlebihan
Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan termasuk faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan otak. Menghentikan kebiasaan tersebut menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
5. Tetap aktif secara mental
Membaca, belajar hal baru, bermain permainan yang melatih kemampuan berpikir, mempelajari keterampilan baru maupun melakukan aktivitas yang merangsang otak dapat menjadi bagian dari upaya menjaga fungsi kognitif.
6. Pertahankan hubungan sosial
Interaksi dengan keluarga, teman maupun komunitas juga berperan dalam menjaga kesehatan otak. WHO memasukkan keterlibatan sosial dan stimulasi kognitif sebagai bagian dari pendekatan untuk mengurangi risiko penurunan kognitif.
7. Perhatikan gangguan pendengaran dan penglihatan
Gangguan pendengaran merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan risiko demensia. Karena itu, keluhan pendengaran maupun penglihatan sebaiknya tidak diabaikan dan perlu mendapatkan evaluasi tenaga kesehatan.
Masyarakat juga perlu membedakan antara lupa sesekali dengan perubahan fungsi kognitif yang mulai mengganggu kehidupan sehari-hari. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain: Sering lupa terhadap informasi yang baru saja diterima; Kesulitan menemukan kata atau mengikuti percakapan; Kesulitan melakukan aktivitas yang sebelumnya biasa dilakukan; Mengalami kebingungan mengenai waktu atau tempat; Mengalami perubahan kemampuan mengambil Keputusan; Perubahan perilaku atau kepribadian yang tidak biasa; Gangguan daya ingat yang semakin sering dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Jika perubahan tersebut semakin sering terjadi atau mulai mengganggu kemandirian seseorang, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda. Diagnosis demensia tidak cukup hanya berdasarkan keluhan lupa, tetapi membutuhkan evaluasi medis, penilaian fungsi kognitif dan, bila diperlukan, pemeriksaan penunjang.
Sebagai bagian dari upaya memberikan pelayanan kesehatan yang komprehensif, RS Sentosa Bogor menyediakan layanan dokter spesialis yang dapat mendukung evaluasi kondisi kesehatan pasien, termasuk dokter spesialis neurologi (Sp.N). Dalam daftar jadwal dokter RS Sentosa tercantum dr. Ryan Tantri Ardo, Sp.N sebagai dokter spesialis neurologi.
Pemeriksaan dapat dilakukan untuk membantu mengevaluasi keluhan yang berkaitan dengan fungsi saraf dan kognitif sesuai kondisi masing-masing pasien. RS Sentosa juga memiliki Instalasi Gawat Darurat (IGD) serta fasilitas penunjang untuk menangani kondisi yang membutuhkan pertolongan medis segera. Dengan mengutamakan mutu, keselamatan pasien serta kenyamanan dalam pelayanan, RS Sentosa mendorong masyarakat untuk tidak menunggu hingga keluhan semakin berat sebelum melakukan pemeriksaan.
Komentar Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tinggalkan Komentar
Informasi Terkait
Fitur sidebar lanjutan akan ditambahkan di sini.